Dhimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan mahasiswa yang bersekolah di Amrik. Pertama kali bertemu mereke terlibat dalam percakapan yang saling menyudutkan satu samalain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka, Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint, sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay. Ternyata tak disangka-sangka bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.
Sepuluh tahun berlalu, mereka bertemu lagi di Jakarta, di rumah Ruben, mereka merancang sebuah cerita roman yang mereka impi-impikan. Mereka memulai dengan mereka-reka tokoh, tokoh yang mereka inginkan adalah muda, usia produktif, urban, metropolis, punya akses teknologi dan informasi yang baik, berdomisili di Jakarta, intelek, profesional, pemegang kekuasaan. Maka muncullah tokoh Ferre yang gila kerja, ambisius, pemegang kekuasaan. Rana seorang wanita yang telah berrumah tangga yang mempunyai pekerjaan seorang reporter dari sebuah majalah wanita terkenal. Rana mendapatkan tugas untuk mewawancarai Ferre, ternyata dari pertemuan tersebut ternyata berkelanjutan menjadikan sebuah perselingkuhan, antara Ferre dan Rana. Ferre terobsesi oleh cerita yang dibacakan oleh neneknya yaitu seorang kesatria yang jatuh cinta kepada seorang putri. Ferre bercita-cita menjadi seotang ksatria tersebut. Berikut adalah potongan cerita komik …
Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari
Sang Puteri naik ke langit
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarkannya sampai ke atas menara.
Ksatria kemuudian berguru pada burung elang.
Burung elanng hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampou terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarkannya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Samapai satu malam ada Bintang jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawarkan Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Kastria tak mampu mendarat tepat di Puterinya, maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
Menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi
sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan Sebuah Cinta Sejati”, ia berbisik, “tutuplah matamu, Ksatria.
Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya”.
Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria
mungil,
namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta. Dan ia merasakannya….”Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah, dan ia pun melihat sesosokputeri cantik yang
kesepian
Bersinar bagai Orion di tengah kelamnya galaksi. Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu. Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.
Berawal dari cerita tadi, maka awal perselingkuhanpun terjadi, ternyata Rana sang reporter sangat serasi sekali dengan tokoh Puteri yang diimpikan oleh Ferre. Meskipun Ferre tahu bahwa Rana telah menikah. Arwin suami Rana adalah seorang ningrat yang santun, mereka menikah pada usia muda dengan alasan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Rana menyadari betul akan perselingkuhannya dengan Ferre, tetapi mereka bahagia. Arwin, suaminya yang sangat baik tersebut belum menyadari perselingkuhan istrinya, ia sangat memperhatikan sekali kesehatan Rana, dan ia juga berencana bahwa tahun ini mereka harus segera mendapatkan momongan. Rana mulai terlihat malas berkumpul bersilaturahmi dengan keluarga bersanya, Rana yang mulai banyak kegiatan yang ternyata adalah waktu dimana ia bisa bersama dengan Ferre, Rana yang mulai malas menjadi istri yang baik, Rana yang cu’ek terhadap keadaannya.
Dilain pihak Bintang jatuh yang diperankan oleh Diva sangatlah sempurna, yang ia kejar hanyalah dollar. Ia sangat menjaga fisiknya, karena fisik yang ia miliki tersebut merupakan komoditi dolar yang ia tambang. Meskipun pada dasarnya ia memiliki pekerjaa menjadi peragawati terkenal yang sangat profesional. Ia sangat menghargai waktu. Setiap detiknya adalah dolar yang tidak boleh disia-siakan. Ia terlahir menjadi anak panti asuhan, yang setiap detiknya selalu mendengar ejekan teman-temannya mengenai postur tubuhnya. Tetapi direlug hatinya yang paling dalam ia adalah seorang dcermawan yang sangat memperhatikan nasib supirnya. Segala keperluan sopirnya ditenggungnya. Ia memberikan modal kepada istri sopirnya untuk dapat mandiri. Menjadikan anak sopirnya menjadi anak asuhnya. Siapa sangka ia adalah seorang “Pelacur” yang profesinal, ia menghormati waktu, ia mengeruk dolar dari komoditi yang ia miliki.
Kehidupan terus bergulir, Rana yan g resah dan Ferre yang plin-plan membuat keputusan, menjadikan beban mereka semakin bertambah. Klimaksnya terjadi pada saat Arwin mulai mengetahui bahwa Rana berselingkuh, ia mengetahui tetapi ia merasa bahwa ia tidak dapat membahagiakan Rana, mungkin Rana akan bahagia bersama dengan Ferre. Ia akan merelakan Rana untuk bersama dengan Ferre. Rana merasa hal tersebut menjadikannya sakit, sehingga ia harus dirawat di sebuah rumah sakit.
Ketika Ferre mengetahui bahwa kekasihnya sakit, ia nekad untuk menemuinya, dan meminta keputusan dari Rana tentang keputusan yang akan diambil oleh Rana. Di lain pihak Arwin berjanji bahwa kalau Rana sembuh ia akan melepaskan Rana agar dapat bersatu dengan Ferre. Ketika ditanyakan tentang keputusan Rana, ia menjawab, bahwa ia akan berterusterang kepada Arwin tentang perselungkuhannya dengan Ferre, dan akan memilih Ferre.
Arwin mengetahui kegalauan yang dirasakan oleh Rana. Arwin mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui perselingkuhan antara Rana dan Ferre. Ia merelakan Rana untuk dapat bersatu dengan Ferre, tetapi Rana merasakan bahwa Arwin teramat mencintainya, Arwin yanng selalu memujanya. Ada satu makna yang ia tangkap bahwa cinta yang membebaskannya, Rana mengahambur mendapatkan pelukan Arwin, didekapnya erat-erat. Rasanya bukan pelukan perpisahan, namun sebaliknya, pelukan seseorang yang kembali.
Ferre terhenyak ketika membaca selembar kertas yang berada dalam genggamannya yang berisikan :
Tidak ada yang saya sesali. Saya harap kamu juga demikian.
Tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan ini semua. Saya yakin kamu mengerti.
Dan tidak ada yang saya cintai lebih dalam selain perasaan indah yang pernah kita miliki
(dan semoga masih akan terus kita miliki). Tapi saya bukan Puteri yang kamu cari.
Di satu titik, perasaan indah itu telah mengkristal, dan saya akan menyimpannya.
Selamanya.
Kamu adalah yang teristimewa, Ferre.
Kamu telah memberi saya kekuatan untuk mendobrak belenggu itu. Sekarang saya bebas.
Tapi, tidak berarti kita harus berjalan bersama.
Ijinkan aku kembali berjalan di setapak kecilku.
Rana.
Ferre merasa terguncang dengan adanya surat tersebut. Ia tadinya bermaksud untuk mengakhiri hidupnya dengan sepucuk pistol yang ia koleksi, ternyata tak didasarinya bahwa tetangga depan, yang ternyata Diva seorang peragawati tenar tangah mengamati perbuatannya. Tetapi niatnya tersebut diurungkannya. Berhari-hari ia tidak makan, minum keluar rumah, bahkan pekarangan rumahnyapun sepi, para tetangga menyangka Ferre telah mengakhiri hidupnya. Sehingga mereka berkumpul di halaman depan, ingin meyakinkan apa sebenarnya yang terjadi pada Ferre. Setelah sahabatnya Ale menelpon Ferre, Feree akan membukakan pintu depan asalkan para tetangganya bubar. Ternyata di dalam kerumunan itu terdapat Diva, yang ternyata tetangga Ferre, hanya saja Ferre tidak menyadari dan mengenal Diva secara jauh.
Setelah kejadian tersebut ternyata Ferre dan Diva menjadi sahabat yang baik dan akrab. Mereka merasa senang mendapatkan tetangga yang saling pengertian. Tetapi Diva tetaplah Diva yang tidak mau terikat oleh seseorang meskipun oleh Ferre sekalipun. Ia adalah seorang peragawati profesional, seorang penjual komoditas yang handal. Ferre bersedia membantu Diva yang ingin mendirikan sekolah yang mencerdaskan pembelajarnya. Ferre akhirnya dapat hidup secara normal lagi tanpa harus teringat akan Rana, yang meniti jalan setapaknya.
Tokoh dan penokohan novel Supernova ini adalah sebagai berikut.
Ruben : keras kepala, haus akan ilmu pengetahuan, pelajar yang gigih mempertahankan pendapatnya, sinis, ia adalah seorang yang menyukai jenisnya.
Dhimas : lemah lembut, pengalah, pintar, mencintai sastra, pandai mengapresiasikan sastra, ulet dan tekun, ia seorang yang menyukai jenisnya.
Ferre : muda, kreatif, gila kerja, metropolis, urban, gigih dan giat, gila teknologi, ambisi, ganteng, kaum borjuis, menyukai lawan jenis yang telah mempunyai suami.
Rana : muda, kreatif, gila kerja, feminim, cantik, lugu, naif, perasa, tidak dapat menahan perasaan ketika ia mulai jatuh cinta kepada pria yang bukan suaminya.
Diva : muda, cantik, agresif, pintar, gila kerja, metropolis, cu’ek, berani menggambil risiko, dermawan, dengan kecantikannya, kemolekan tubuhnya ia menjual dirinya menjadi seorang peragawati profesional dan merangkap sebagai seorang pelacur kelas papan atas.
Arwin : muda, ningrat, taat adat, penyabar, pengertian, setia, ganteng, ulet dan rajin, ia memiliki sifat yang penyabar sehingga mengetahui istrinya selingkuh ia menyadari betul akan arti kebahagiaan istrinya, ia tidak marah, malah ia mengijinkan istrinya untuk bersatu dengan selingkuhannya. Ia adalah tipe pria idaman setiap wanita, ia terlahir dari keluarga ningrat.
Ale : urakan, sahabat setia, gagah, ia sangat menghargai persahabatan, hal tersebut terlihat dengan mendukung Ferre dalam berbagai hal. Ia sangat beruntung dalam soal percintaan, ia memiliki seorang kekasih yang sangat pengertian.
Gio : laki-laki yang suka tantangan, mandiri, polos dalam pergaulan sex, ganteng, mempunyai hobi hiking, selalu menjelajah alam, ia adalah pacar dari seorang Diva, enak diajak berbicara, pria yang romantis.
Tokoh dan penokohan yang terdapat dalam novel Supernova dibedakan berdasarkan jenisnya sebagai berikut.
a. Tokoh utama adalah Dhimas dan Ruben, Ferre, Rana.Tokoh tambahan adalah Arwin, Diva Ale dan Gio. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculan dalam keseluruhan cerita cenderung sedikit, tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
b. Tokoh antagonis adalah Dhimas, Ruben, Rana, Ferre, Diva. Tokoh protagonis adalah Arwin. Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang dapat dikatakan pahlawan (hero) atau tokoh yang merupakan pengejewantahan nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh ini menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita sebagai pembaca. Akan tetapi dalam tokoh Arwin pembaca sangat mengagumi perasaan cintanya kepada Rana yang dengan iklas merelakan Rana untuk dapat bersatu dengan Ferre.
c. Tokoh sederhana adalah Ferre, Rana, Arwin, Gio dan Ale. Tokoh kompleks adalah Dhimas, Ruben, Diva. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat yang tertentu saja, contohnya Arwin ia memiliki sifat setia dan sabar kepada istrinya, ia tidak memiliki sifat yang lain lagi. Tokoh kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Tokoh ini lebih sulit dipahami, terasa kurang familier, tingkah lakunya tak terduga, penuh kejutan.
d. Tokoh statis adalah Ale, Gio, Arwin. Tokoh berkembang adalah Ruben, Dhimas, Ferre, Rana dan Diva. Tokoh Statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan, tokoh ini tampak seperti kurang terlibat dan terpengaruh oleh adanya perubahan-perubahan lingkungan yang trejadi karena adanya hubungan antar manusia. Tokoh ini relatif memiliki watak dan sikap yang relatif tetap, tak berkembang, sejak awal sampai akhir cerita. Sedangkan tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa serta plot yang dikisahkan. Ia berinteraksi dengan lingkungannya baik lingkungan sosial, alam, maupun yang lainnya, yang kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak dan tingkah lakunya.
Tema utama dalam novel Supernova ini adalah tentang perselingkuhan, antara Ferre dan Rana. Tema tambahan yang terdapat dalam novel Supernova adalah tentang percintaan yang tak wajar (sesama jenis) yaitu antara tokoh Ruben dan Dhimas. Masalah kesetiaan seorang suami (Arwin) dan kesetiaan seorang sahabat (Ale).
Dalam novel Supernova ini digunakan latar cerita di Indonesia, khususnya Jakarta, Bandung dan Amerika Serikat. Tokoh Dhimas dan Ruben diceritakan sedang bersekolah di Amerika Serikat sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa mereka berkeinginan untuk menciptakan sebuah karya sastra spekatakuler yang menceritakan tentang perselingkuhan yang berlatarkan di Indonesia terutama di Jakarta.
Alur atau Plot
Alur atau plot adalah dalah urutan cerita, kejadian atau jalannya cerita yang terdapat dalam novel. Plot juga dapat diartikan sebagai struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis. Plot dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagaimana uraian berikut.
a. Berdasarkan kriteria urutan waktu, untuk novel Supernova ini menggunakan plot atau alur campuran yaitu plot atau alur maju dengan plot sorot balik. Alur atau plot maju, artinya peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa-peristiwa yang pertama diikuti oleh peristiwa yang kemudian. Dengan ungkapan lain, secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (pengembangan situasi, pengenalan tokoh dan peristiwa, pemunculan konflik); tahap tengah (konflik meningkat, klimaks) dan tahap akhir (penyelesaian). Dalam novel ini terdapat pula plot sorot balik, tetapi porsinya lebih sedikit, dan hanya bersifat mengingatkan atau memberitahukan kepada pembaca tentang asal-muasal permasalahan. Plot sorot balik hanya bersifat memberitahukan kejadian awal saja.
b. Berdasarkan kriteria jumlah, novel Supernova ini menggunakan sub-subplot artinya dalam novel ini memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan. Dengan ungkapan lain, terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidupnya, dengan lebih dari satu permasalahannya dan konflik yang dihadapinya. Yang menjadi plot utama (main plot) adalah kisah Dhimas dan Ruben, sedangkan yang menjadi plot-plot tambahan (sub-subplot) adalah kisah Ferre dan Rana. Subplot di sini merupakan bagian dari plot utama. Ia berisikan cerita “kedua” yang ditambahkan dan bersifat memperjelas serta memperluas pandangan terhadap plot utama. Sub-subplot ini mendukung efek seluruh cerita.
c. Berdasarkan kriteria kepadatan, novel Supernova ini termasuk kepada plot padat, artinya cerita disajikan secara cepat, peristiwa-peristiwa fungsional terjadi susul-menyusul dengan cepat, hubungan antarperistiwa juga terjalin secara erat, dan pembaca dipaksa untuk terus-menerus mengikutinya. Hubungan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya berkadar fungsional tinggi, tak dapat dipisahkan atau dihilangkan salah satunya. Jika pemisahan itu dilakukan, pembaca akan merasa kehilangan cerita, kurang dapat memahami hubungan sebab akibat, atau bahkan kurang memahami cerita secara keseluruhan.
d. Berdasarkan kriteria isi, novel Supernova termasuk ke dalam plot pemikiran artinya dalam plot ini mengungkapkan sesuatua yang menjadi bahna pemikkiran, keinginan, perasaan dan berbagai macam obsesi, dan lain-lain hal yang menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia.
Sudut pandang (point of view) adalah cara dan atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Hakekatnya merupakan strategi, tehnik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Dalam novel Supernova ini sudut pandang yang digunakan adalah pandangan orang pertama atau “aku” yang menjadi tokoh utama. Hal tersebut terlihat dengan adanya “si aku” yang menjadi tokoh utama praktis menjadi tokoh protagonis ataupun antagonis. Hal itu memungkinkan pembaca menjadi merasa benar-benar terlibat. Pembaca akan mengidentifikasikan dirinya menjadi tokoh “aku”. Dengan demikian, tokoh akan memberikan empati secara penuh kepada pembaca. Pembaca akan merasakan peristiwa yang dialami tokoh walau hanya secara imajinatif. Pembaca akan ikut mengalami dan merasakan semua petualangan dan pengalaman si “aku”.
Amanat atau pesan moral yang akan disampaikan pengarang kepada pembaca dalam novel Supernova ini adalah tentang pesan religius atau agama, meskipun mereka bersekolah jauh di luar negeri akan tetapi agama yang dianut harus tetap dipegang teguh. Meskipun pengetahuan manusia sudah canggih, agama jangan sampai dinomorduakan. Terlihat dengan adanya tokoh Dhimas dan Ruben mereka terseret menjadi dua kekasih yang sebenarnya menurut agama manapun tidak dibenarkan berpacaran dengan sesama jenis. Kemudian tokoh Ferre dan Rana mereka melanggar aturan agama, mereka selingkuh.
Selain itu terdapat kritik sosial yang pedas yang disamapaikan secara langsung oleh tokoh Diva. Ia menyoroti tentang kepincangan yang terjadi di masyarakat. Kita sebagai pembaca diberikan pesan agar lebih peka terhadap keadaan orang yang tidak mampu.
Gaya Penulisan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan novel Superova ini adalah bahasa tidak baku (gaul). Bahasa novel ini terkadang diselingi oleh istilah sains. Sekalipun demikian, novel ini enak dibaca justru mungkin karena bahasa yang digunakannya tidak baku atau bahasa gaul. Dengan demikian, pembaca merasa terbuai, dan terhanyut di dalam kisah yang disajikan penulis.
Kontributor: Maryam Abdillah (037120), Siti Julaeha (037141)
Baca Selengkapnya...


