Tempat download ISO PSX,curcol,dan info-info lain gan!
Welcome
Jumat, 10 Agustus 2012
Kisah Adik "Istimewa" - Episode 1
Halo agan/wati hehehe.....sekian lama g sempet" posting karena lagi upgrade blog biar cakep kayak yang punya wakaka... :p akhirnya bisa posting juga hehehe....
Nah kali ini saya mau curhat tentang adik saya...Ini kisah nyata alias True Story loh hehehe....
Oke lanjut saya akan mulai curhatnya tentang adik saya yang bernama Farah.
Aku memiliki seorang adik.Adik aku bernama Farah Nabila,biasa dipanggil dengan nama Farah.Aku sangat senang sekali ketika mempunyai seorang adik karena aku tidak lagi kesepian dan akhirnya menjadi kakak.Waktu kecil,aku sering bermain dengan adiku.Bermain boneka,cilukba,maen kendaraan-kendaraan,sepeda-sepedaan di dalam rumah,usil-usilan hingga gambar corat-coret ditembok yang bikin bapak ma ibu puyeng.Maklum masi kecil kalo urusan gambar pengennya ditembok karena merasa memiliki kertas yang ukurannya super jumbo ngalahin ukuran kertas A0.Saking aku seneng maen dengan adik aku semakin aku menyayangi adik aku.Bahkan adik aku lebih hebat daripada aku.Pas adik aku umur 3 tahun dia sudah bisa minum susu dengan gelas padahal aku yang berumur lebih tua 2 tahun dari adik aku masi aja ngedot botol.
Nah pada suatu hari (saya lupa kapan tepatnya) Ibuku memasukan pakaian ibu dan adik aku ke dalam tas koper.Lantas dibenakku bertanya-tanya,ini ibu ma adik ke mana ya..Pas ibuku lagi masuk-masukin baju,saya bertanya.
"Bu,mau ke mana?",tanya aku
"Ibu ma adik mau pergi ke Bandung,mau periksa terapi adik.",jawab ibuku
"Lho adik napa bu?",tanya aku lagi
"Adik kena penyakit mas.",jawab ibuku
Setelah mendengar itu dalam hati aku kaget klo adik aku punya penyakit.aku masi bertanya-tanya adik aku kena penyakit apa hingga di terapi di Bandung segala..Nah setelah ibu dan adik aku pergi ke Bandung dengan travel,saya tanya sama Bapak
"Pak,adik sakit apa?",tanya aku
"Adik kamu kena tumor diotak,ini mau di terapi",jawab bapak aku
Langsung dalam hati shock berat karena mengetahui bahwa adik aku kena tumor di otak,aku merasa ada pekewuh ma adik sendiri.
2 minggu setelah kejadian itu,ibu dan adik aku pulang ke rumah.Aku langsung menyambut ibu dan adik aku.Aku merasa lega adiku tidak kenapa-kenapa maklum dari kemarin-kemarin sering cemasin adik aku.Setelah itu saya bermain ma adik aku dengan senang-senang.
Setiap bulan ibu dan adiku selalu pergi ke Bandung selama 2 minggu untuk menjalani terapi adik aku.Hingga pada suatu hari sekitar seminggu setelah pulang dari terapi aku sedang main game dan adiku menginginkan mainan yang aku mainkan.Tiba-tiba mainan yang aku lagi main diambil ma adik aku.Lantas aku marah dan saya memukuli kepala adik aku seperti Mama memukuli kepala Sinchan.Adik aku nangis keras ampe ibuku tahu dan aku kena marah.Setelah itu aku masih kesal banget dengan ulah adik aku.Setiap aku lagi seneng-seneng dengan sendiri kalo ada adik terasa mengganggu dan aku selalu mengusirnya.Tidak lupa aku untuk menggangguin adik aku klo aku lagi kesal entah kesal napa pengennya gangguin adik aku.Dari tak suntik hingga menyebut nama dokter terapi adik aku.Padahal pas itu dokter terapi adik aku sudah meninggal karena terkena penyakit jantung tapi tak mengendorkan semangat untuk mengganggu adik aku.
Beranjak ke depan pada saat adik aku mulai memasuki TK.Saat itu adik aku belum bisa bicara dengan benar alias blom bisa ngomong.Aku merasa kasian karena ini gara-gara kejadian dulu saat aku memukuli kepala adik aku.Coba klo aku g mukul,adik aku bisa ngomong pastinya.Oke lanjut,ini aku cerita tentang kisah adik aku yang baru menginjak ke pendidikan formal.
Adik aku sekolah di TK yang berada 50m dari rumah alias tempat TK aku dulu.Adik aku saat itu belum bisa ngomong dan belum bisa nulis dengan benar.Maklumin aja dah orang masih TK wajar.Nah pada suatu hari,guru TK nelpon ke rumah.Guru TK bilang bahwa adik aku berak di celana pas belajar dan minta bawa celana ganti.Lantas ibuku meluncur ke TKP sambil bawa celana ganti.Bahkan pada saat menerima rapot,guru TK ngomong bahwa adik aku sebenarnya semangatnya bagus tapi kadang suka males dan tergantung mood juga klo mau ngerjain tugas mewarnai,menggambar dan menulis.Hal ini aku maklumi karena di rumah juga begitu.Setelah 2 tahun belajar di TK akhirnya adik aku menginjak ke pendidikan super formal yaitu SD.
Sekolah adik aku berjarak 300 m dari rumah dan bersebrangan dengan gang rumahku.Dulu kalo adik aku sekolah yang suka nganter itu bapak aku karena searah dengan kantor bapak aku.Nah pada suatu hari di sekolah adik aku ada PR dan adik aku g nyatet PR.Maklum moodnya lagi jelek pas waktu itu sehingga malas walaupun gurunya sudah menyuruh untuk menyatat PR.Lantas aku di suruh ibuku untuk minjem catatan ke teman adik aku yang rumahnya di RT sebelah.Semejak kelas 1-6 aku sering mondar mandir ke temen adik aku untuk minjem catatan hingga PR.Yah gitulah adik aku mau g mau aku dan orang tuaku berperan aktif untuk membuat adik aku semangat.Alhamdulillahnya,adik aku punya sahabat di sekolahan yang mau minjemin catatan dan PR untuk adik aku.Aku merasa lega karena walaupun adik aku berbeda dengan anak normal lainnya tapi ada temen adik aku yang mau bantuin adik aku.
Setelah perjuangan 6 tahun di bangku SD akhirnya adik aku lulus juga.Walau nilainya pas-pasan yang penting lega sudah lulus.Saatnya nyari SMP buat adik aku.Pertama nyoba daftar di SMP negri 27 yang lokasinya deket dengan rumah.Tetapi ditolak dan orang tua memutuskan untuk menyekolahkan adik aku ke sekolah swasta.Pada waktu itu bapak aku mengajak aku dan adik aku untuk melihat sekolah swasta.Nah saat tiba didepan sekolah bapak aku tanya adik aku.
"Dek Farah mau sekolah di sini atau tidak?",tanya bapak
"Mauuuu..",jawab adik aku dengan semangat
Akhirnya adik aku sekolah di SMP swasta.
Sekian dlu yah,ntar aku lanjutin kisah adik aku yang "istimewa" saat beranjak SMP hingga sekarang.Maaf klo masi berantakan karena buat cerita sambil bernostalgia hehehe...
Penasaran kan dengan lanjutan ceritanya??Stay tune dengan blog saya jamin agan/wati mendapatkan motivasi dari saya hehehe....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar